radenkar

Friday, October 26, 2007

Jujur Pada Diri Sendiri

Menurutku, keberanian terbesar dalam hidup ini bukan terjun dari ketinggian, bukan pula berenang dekat seekor hiu, bukan semua itu. Keberanian terbesar dalam hidup ini adalah K E J U J U R A N.

Sederhana bukan? Seberapa banyak orang di dunia ini yang bertahan teguh pada kejujuran? Begitu sulitnya! Bahkan untuk jujur pada diri sendiri pun, kadang dibutuhkan keberanian lebih.

Aku ingat pernah nonton film ANDAI IA TAHU, salah satu kutipan kalimat yang dikatakan tokoh wanitanya, berbunyi "Kejujuran itu seperti es krim, kalau tak cepat ditelan akan segera mencar. Kejujuran itu seperti otot tubuh kita, harus sering dilatih agar lentur. Dan kita bisa memulai dengan berlatih dengan jujur pada diri sendiri."

Begitu sederhananya, JUJUR PADA DIRI SENDIRI, tapi begitu sulitnya untuk melakukannya. Kita semua cenderung lebih senang mengingkari kenyataan, lebih senang tidak mengakui keberadaan diri sediri, menolak diri sejati dan memilih jadi orang lain. Ada satu orang yang amat kukenal, yang menjalani hidup dengan terus berlari dari dirinya sendiri, dan akhirnya dikejar bola api kebohongannya. Pengalaman bersamanya membuatku menyadari kalau sangat penting sikap jujur pada diri sendiri. Hanya dengan cara itulah kita bisa tumbuh dewasa dalam kehidupan ini dengan menemukan diri sejati kita. Jadi makin matang dari hari ke hari.

Saturday, October 20, 2007

Sunyi


Hari-hari terasa sunyi, rasa sakitnya memang mulai mereda tapi hatiku terasa sepi. Aku menyadari ini memang harus terjadi, dan harus dilalui. Dan aku menguatkan hati untuk bertahan, karena aku yakin ini semua pasti akan berlalu, entah kapan, sebulan, dua bulan atau setahun - dua tahun. Masih ada hari esok, dan selalu ada harapan. Itu keyakinan yang membuatku bertahan dari kepedihan ini. Rasanya memang pedih, sakit sekali tiap kali mengingatnya.

Friday, October 19, 2007

Matahari Bersinar Kembali


Pada akhir sebuah perjalanan, kita semua memang harus membuat keputusan. Dan seminggu yang lalu aku melakukannya. Mengakhiri sebuah perjalanan dengan memilih arah yang ingin kutuju. Setelah empat tahun berlalu keputusan ini terasa menyakitkan. Tapi memang beginilah hidup, harus selalu siap menghadapi apapun kan?


Setelah kegelapan ini berlalu, pada akhirnya aku mulai dapat melihat matahari kembali, yang muncul dengan megah di balik awan-awan gelap. Rasanya begitu nyeri, saat melihat sisa-sisa kenangan yang masih tertinggal. Tapi kesadaran untuk bangkit kembali membuatku lebih tabah menjalani ini. Karena aku yakin, selama masih ada kemauan, hari esok yang lebih baik masih mungkin untuk diraih.



Banyak sekali yang mulai dapat kulihat dengan lebih jelas, di antara puing-puing yang berserakan, aku bisa melihat lebih jelas, bahwa kadang rasa takut untuk terluka, rasa takut dengan bayangan kita sendiri tentang masa depan, membuat kita mengabaikan intuisi, mengabaikan hati kecil kita sendiri. Sudah sejak lama aku menyadari, kalau hubungan ini memang tak bisa dibawa lebih jauh, terlalu banyak perbedaan, terlalu banyak ketidakcocokan, terlalu banyak luka yang tak mungkin untuk ditanggung. Tapi aku selalu bertahan karena takut harus terluka, karena takut kehilangan, takut membayangkan masa depan yang tak pasti lagi.


Tapi ternyata, rasa sakit itu tidaklah membunuhku, rasa sakit ini malah membuatku makin kuat, membuatku menyadari betapa banyak yang telah kulewatkan selama empat tahun ini. Dan kasih sayang ini masih utuh di tempatnya hanya berubah dalam bentuk yang berbeda, kasih sayang ini begitu indah, dan mencintai itu sebuah kekuatan.


Aku selalu menyayanginya, di manapun dia berada, doaku akan selalu menyertainya. Dan luka ini akan segera pulih sejalan dengan waktu. Dan aku ingin menyipannya dalam kenangan indahku.


Aku belum bisa tersenyum lagi saat ini, tapi aku cukup senang, aku bisa melihat matahari itu bersinar di balik mendung yang mulai berlalu tertiup angin.

Wednesday, October 10, 2007

Sakit Keempat

Rasa sakit yang sama terulang kembali, kali ini tak sesakit yang pertama, kedua dan ketiga. Masih terasa sakit, tapi aku pasti mampu bertahan. Sakit ini membuat tekadku makin kuat, begitu ini berlalu, aku akan melakukan sesuatu, yang tak akan bisa dihindari lagi.