radenkar

Tuesday, May 26, 2009

Tombok Batas Kemandirian


Beberapa hari lalu aku membaca sebuah novel, tokoh dalam novel ini mengatakan dalam salah satu kalimatnya 'tembok batas antara kemandirian dan keseperian sebenaranya sangat tipis.' Aku melihat ke dalam diriku sendiri akhir-akhir ini dan menemukan kebenaran dalam apa yang diungkapkan tokoh dalam novel tersebut.

Sejak lulus SD, aku selalu berusaha untuk mandiri, selama aku bisa aku ingin melakukan apapun sendiri. Aku selalu menganggap kemandirian itu menyenangkan. Karena aku takut jika harus tergantung pada orang lain, pada akhirnya harus kecewa. Entah bagaimana, aku menganggap berhasil melakukan segala sesuatu sendiri memberikan kepuasan tersendiri.
Sampai detik ini,aku masih menyukai kemandiriankau, ketenangan duniaku.

Tapi ada yang berbeda sejak beberapa lama. Dunia yang kumiliki sekarang tak lagi sama. Ketenangan ini jadi terasa sangat tenang, lengang, sepi dan sunyi. Nocturne, begitu aku selalu menyebutnya.
Tak ada yang kutakutkan. 'Rumah'yang kuhuni masih saja rumah yang sama seperti bertahun-tahun lalu. Sama sepinya,sama lengangnnya. Hanya ada beberapa perubahan orientasi dalam hidupku. Itu saja masalahnya. Aku masih belum yakin apa yang sesungguhnya kuinginkan kali ini.

Well, aku ingat betul apa yang kutemukan beberapa tahun lalu,saat aku mengalami kesepian yang hampir sama.Dan aku bertahan karena aku berpikir, kita terlahir sendiri dan pada dasarnya kita memang selalu sendiri. Teman dan orang-orang di sekeliling kita akan selalu datang dan pergi. Tapi pada akhirnya kita tetap seorang diri.
Aku hanya harus menghadapi dan mencari jalan agar dunia yang kuhuni, yang kumiliki saat ini jadi tempat tinggal yang menyenangkan untuk kutempati sepanjang hidupku. Tak peduli bagaimanapun keadaanya, tak peduli perubahan apapun yang terjadi di dalamnya.