Pasangan Yang Kuinginkan

Kritik memang tak selalu menyenangkan. Itu yang kualami saat seorang sahabat terbaikku mengkritik pilihanku soal pria atau apa yang idealku soal pernikahan. Reaksi pertamaku kesal dan aku mulai memikirkan kebenaran pendapatnya. Dan lalu aku mulai bingung memikirkan pendapatnya dan pemikiranku sendiri. Pada akhirnya aku berpikir sangat keras, tentang pernikahan dan pasangan hidup.
Suatu hari, T bertanya padaku 'Tidak cukupkah buatmu seorang pria yang baik, membuatmu nyaman, mapan dalam pekerjaan?' Dan pilihan-piliahnku yang salah dijadikannya senjata untuk mengkritik mandeg-nya kehidupan asmaraku.
Aku memikirkan segalanya kembali. Apa yang paling kuinginkan dalam hidupku adalah berbagi bersama seseorang yang tepat, katakan Mr. Right. Tidak pernah berubah dari waktu ke waktu. Well, memang ada saat-saat di masa lalu aku berencana jatuh cinta pada seseorang yang sudah kukenal. Pada akhirnya semua juga tidak berjalan dengan mulus.
Kalau menyangkut pernikahan, banyak hal yang kulihat dari sekelilingku. Begitu banyak orang menikah dan tidak merasakan kebahagiaan. Aku selalu bertanya pada diriku sendiri, apa gunanya memutuskan bersama seseorang yang kita tahu tidak akan membuat kita merasa bahagia? Tidak membuat kita merasa seperti pulang ke rumah?
Dalam perjalanan aku berpikir soal apa yang kuanggap benar, soal status single ku yang panjang ini. Aku menemukan bahwa kehidupan pernikahan itu sudah membosankan. Lalu bagaimana kalau aku memutuskan menikah dengan orang yang hanya membuatku merasa biasa, merasa nyaman, merasa terpenuhi kebutuhan akan kestabilan, kebutuhan status dalam masyarakat, atau bahkan kebutuhan akan keturunan. Dan apa semua itu cukup bagiku?
Sungguh, aku tidak bisa memikirkannya. Apa yang kuinginkan adalah satu pria dalam hidupku. Yang akan membuatku bertahan menghadapi kebosanan hidup, karena saat kami begitu terbiasa dalam kehidupan berumah tangga, saat aku mengenang kembali ke belakang, mengingat alasan kenapa aku memutuskan bersamanya, aku dapat kembali merasakan getaran-getaran yang hidup itu. Mungkin. Aku sendiri tak terlalu yakin, ya? Yah, hidup selalu berubah, who know what will happent next? Tapi pikiran itu tak pernah tergoyahkan dari waktu ke waktu. But better i say, NEVER SAY NEVER
Well, katakan, pria-pria sejati memang langka di zamana modern ini. Ke mana mata memandang, yang ada hanya anak-anak lelaki yang tubuh jadi besar. Dengan ego mereka yang luar biasa membengkak. So, aku tidak mencari pria yang sepenuhnya sejati, aku hanya butuh seorang pria, yang bisa membuatku merasa hidup. Bisa diajak berbagi, bisa diajak berantem, bisa diajak bersenang-senang, melakukan hal-hal gila, pria yang cukup terbuka, yang nyaman dengan emosinya sendiri. Well, aku bisa menerima anak lelaki yang tumbuh dewasa dengan ego membengkak, karena memang itu lah mereka. Tapi satu yang kuharapkan dari pria, buat aku tertawa, buat aku menangis, buat aku marah, dan memiliki seluruh emosi yang lengkap sepanjang hidupku.
T bilang, aku terlalu keras, keras kepala, tidak berpikir logis. Well, aku bilang 'Yah! sudah seharusnya seperti itu diriku.' Aku tahu, aku bisa saja salah. Mungkin saja kenyamanan akan lebih indah dari pada emosi kompleks dalam sebuah hubungan. Tapi aku tidak bisa membayangkan menjalani kehidupan yang membosankan dengan orang yang membosankan. Dan aku tak mau coba-coba dalam hal ini. Kalau taruhannya perasaan, lebih baik tidak. Semua orang punya pilihan bukan?
Aku tahu apa resiko dari pilihanku ini. Mungkin suatu saat nanti, saat aku jadi tua dan seorang diri, aku akan menyesali ini. Tapi apa yang kuyakini saat ini akan kugenggam dengan erat di kedua tanganku. Toh banyak hal yang akan bisa kulakukan dalam hidupku ini. That's all!
