radenkar

Monday, March 23, 2009

Merengkuh Kebahagiaan

Ada saat-saat dalam hidupku, hari-hari terasa begitu mendung. Seperti aku terperangkap di dalam kabut, merasa sesak nafas, mengharapakn cahaya.

Tapi selalu, dan selalu aku bisa keluar darai sana. Melihat secercah matahari dalam kehidupanku sendiri. Banyak hal yang perlahan mulai kumengerti, bahwa hidup kita terlalu singkat. Kebahagiaan terkadang hanya mempir dalam sekejab.

Aku mengerti, sebelum tangis datang, saat aku bisa tertawa dan tersenyum, aku akan merengkuh semuanya, sepuas-puasnya. Meraih segala kebahagiaan yang dapat kuraih hari ini. Karena aku tahu pasti, esok hari mungkin tidak akan pernah sama lagi.

Segalanya, segala-galanya dalam hidup ini, aku ingin menikmati semaksimal mungkin. Saat suka, saat duka, semua yang datang silih berganti.

Aku ingin bahagia, dan aku meraihnya dalam setiap detak jantungku, aku berusaha meraihnya. Ada banyak hal, yang pasti, yang aku tahu, bahagia dapat datang dari mana saja.

Suatu kali, saat aku merenung sendiri, aku menemukan, 'betapa indahnya menjadi seorang yang bebas, mandiri, dan aku menyukai kemerdekaanku. Aku menyukai bahwa aku tak tergantung pada apa pun, kecuali Tuhan. Itu satu di antara keindahan hidup yang dapat kurengkuh.

Friday, March 20, 2009

Kebahagiaan di Ujung Jari Kita


Musik klasik kembali jadi dunia ku beberapa hari ini. Rasanya memang sudah sepanjang hidupku aku menyukai musik-musik klasik ini. Beberapa karya Beethoven, Bach, Pachelbel dan yang lain-lainnya. Ada sesuatu yang membuat ku merasa....sulit dijelaskan, setiap kali mendengarkan musik klasik.

Setelah membaca buku Water karya Masaru Emoto, aku mulai memahami. Bagaimana air yang dipaparkan musik klasik Moonlight Sonata milik Beethoven membentuk kristal-kristal indah. Mungkin itu lah kenapa, katanya yang tubuh kita 70% berisi air, merasakan keindahan sampai ke sukma kita. Wow...that's great, isn't it?


Tapi bukan musik klasik yang ingin kuungkapkan kali ini. Tapi kedamaian hatiku, damai sekali rasanya akhir-akhir ini. Setiap kali aku kembali ke sarangku (kos-ku), menikmati kesendirian, membaca buku, mendengarkan musik kesayanganku. Aku merasa menemukan duniaku yang sempat hilang. Aku menyadari, betapa aku mencintai ketenangan, merasakan setiap getaran kehidupan mengalir di setiap detakan jantungku. Kedengarannya begitu puitis. Sungguh, aku merasakan getaran indah setiap kali memejamkan mata dan mendengarkan suara derai hujan. Atau saat pulang di sore hari, berjalan dan menatap warna jinga senja dan birunya langit. 'Ya Allah...' itu saja yang terus terucap.

Apa yang ingin kukatakan, kita bisa menemukan kebahagiaan dan kedamaian di tempat yang paling, sangat, sangat dekat dengan diri kita. I can do that...and i said it's a real happiness. Kita hanya perlu sedikit berpaling dari segala permasalahan dalam kehidupan, menemui jiwa dalam diri kita dengan menatapa alam semesta, menikmatinya, bersatu dan menjadi bagian dari itu semua.

Dan...aku sungguh-sungguh mengerti apa arti kebahagiaan sejati, setiap kali aku menemukan saat-saat damai menikmati hal-hal kecil yang ditawarkan oleh kehidupan, seperti menatap matahari tenggelam, satu di antara begitu banyak lainnya. pada akhirnya, aku mengerti, tak ada yang perlu ditakutkan, karena kita hanya punya 1% kendali atas hidup kita, 99% sisanya adalah milik Allah.