radenkar

Saturday, January 10, 2009

Dunia Yang Berbeda


Kehidupaku seperti berayun-ayun selama beberapa waktu. Aku melakukan sesuatu yang membebaskanku dan sedikit tak masuk akal. Aku memikirkannya selama beberapa waktu, tapi hatiku terasa tenang. Aku tak menyesalinya. Jadi ini keputusan yang benar.

Seperti menabrak tembok, itu yang kurasakan. Tanpa reaksi, tanpa ada perubahan. Aku juga mulai sedikit goyah, keyakinan yang dulu membuatku kuat mulai tak lagi dapat kupegang. Aku juga tak tahu apa yang benar-benar kurasakan. Aku menyembunyikannya di balik senyuman, bahkan aku selalu berkata pada diriku sendiri kalau aku baik-baik saja. Tapi apa aku benar baik-baik saja?

Rasanya sangat sedih, dan sungguh berbeda, seperti ada sebagian diriku yang hilang. Sejak hari itu, dunia terlihat dalam bayangan warna-warna suram. Begitulah hari-hariku. Selama awal tahun baru, aku berkumpul bersama sahabat-sahabat terbaikku, apa yang mereka katakan sungguh melegakan, apa yang mereka lakukan sungguh sebuah penghiburan.

Hari-hari kelam ini sungguh terasa panjang, aku bisa menceritakan semua pada sahabatku, semua, termasuk apa yang kurasakan. Dan mereka mengatakan 'aku mengerti.' Tapi tetap saja, hanya aku yang tahu bagaimana rasanya.

Aku bertanya pada Tuhan dalam setiap doaku, dan aku semakin tak mengerti, karena masalah ini jadi semakin kompleks. Kami semakin jauh, tapi hatiku semakin lekat. Ada sesuatu yang tak dapat kuungkapkan. Aku terus bertanya, kenapa? Apa yang terjadi? Di mana letak salahnya? Dan kenapa tatapan itu selalu menggangguku? Aku harus mencari jawabannya, tapi jalannya terasa buntu. Kalau memang ini bukan untuk kami, kenapa perasaanku begitu kuat? Kenapa ada saat-saat yang tak dapat dijelaskan itu?

Aku merasa sangat butuh duniaku, kembali ke sana, ke dalam ketenangan. Aku ingin menemukan jawabannya di sana, seperti biasanya di masa lalu. Tapi, duniaku yang baru sangat tak memungkinkanku untuk mendapatkan ketenangan. Begitu banyak orang bicara, suara-suara gaduh, musik dan segala hal yang membuatku sangat terganggu. Aku sendiri bahkan mulai terlalu gaduh.

Aku merindukan segala yang pernah kumiliki, rindu T, rindu ketenangan yang damai yang selalu kita miliki. Percakapan yang membuatku melihat dunia dengan cara yang lebih indah. Aku sangat merindukan T. Teramat sangat. Merindukan pelukannya yang menenangkan, merindukan tegurannya, merindukan kritiknya, nasehatnya dan segala hal indah tentang dirinya.

Tapi seperti yang selalu dikatakannya, aku harus berjalan sendiri tanpanya dalam kehidupanku kini. Dan aku harus menemukan jalanku, menemukan segala yang mulai pudar dalam diriku. HARUS