Cinta Itu Mulai Bersemi

Entah bagaimana, tapi perasaan ini nyata, senyata seperti saat aku menyentuh wajahku. Aku meyakinkan diriku beberapa hari lalu, saat aku menatapnya diam-diam. Getaran itu benar-benar nyata. Dan saat kita bertatapan mata, sekali atau dua kali, aku makin sadar memang perasaan itu ada, setidaknya di pihakku.
Benih cinta itu masih baru bersemi. Aku tak tahu ke mana arahnya kelak. Apa akan bertumbuh jadi pohon cinta yang besar dan teduh, atau akan terbaikan, tak terawat dan mati sejalan dengan waktu.
Aku ingin merawatnya, tapi aku belum yakin apa aku menanamnya di tempat yang benar. Dia, nampaknya begitu angkuh dan aku tak ingin melakukan sesuatu yang lebih dari batas harga diriku. Sisa-sisa rasa sakit di masa lalu menahanku untuk tetap ada di jalur.
Aku tahu pasti apa arti mencintai, dan aku bisa mencintai tanpa mengharap kembali. Setidaknya aku pernah melakukan itu dan bertahan selama bertahun-tahun. Melakukannya kembali bukan hal sulit buatku. Tapi aku tak yakin, apa sekarang aku ingin melakukan hal yang sama?
Perasaan kita begitu berharga, menempatkannya di tempat yang salah akan membawa air mata. Aku tahu bagaimana rasanya dan tak ingin lagi mengulanginya. Yang kuingin, saat aku mencintai, aku ingin lebih banyak tersenyum, aku ingin melihat dunia dengan warna-warna cerah, sesekali mendung tak jadi soal, tapi aku ingin setiap kali matahari terbit kembali, aku bisa tersenyum menatapanya. Hari-hari buruk itu telah berlalu, dan aku tak ingin kembali ke sana. Begitu juga kali ini, aku mengharapkan hal indah terjadi, bukan kebalikannya.

