Perjalanan ke Dalam Diri Sejati
Aku membaca sebuah artikel beberapa hari lalu, yang pada intinya menyebutkan tentang 'Perjalanan ke Dalam Diri.' Sebuah kalimat di dalam artikel ini berbunyi, 'Kita mungkin sudah melalui perjalanan sepanjang hidup kita, tapi berapa banyak diantara kita yang pernah melakukan perjalanan ke dalam diri sendiri?'
Kalimat ini menyentil dasar hatiku, aku mulai bertanya pada diriku sendiri, 'apakah aku sudah melakukan perjalanan ke dalam diriku?' Jawabannya sudah pasti tidak.
Aku melihat banyak orang di sekelilingku, yang sibuk mencari perhatian, sibuk mencari 'wah' dari orang lain, sibuk mencari pengakuan, mengatakan diri mereka ini dan itu. Dan aku melihat ke dalam diriku sendiri, yang sibuk dengan segala tetek-bengek di luar diriku, mulai dari pekerjaan, memikirkan masalah dengan orang lain, nonton TV dan banyak hal lagi.
Begitu sibuknya bergelut dengan kehidupan sehari-hari, membuat kebanyakan dari kita lupa menyapa diri sendiri. Dan ironisnya, hidup tanpa mengenal diri sejati laksana sumur tanpa air.
Dan sekarang aku menemukan jawaban, kenapa kegelisahan selalu memenuhi hatiku. Karena selama ini aku hanya hidup di atas permukaan, dalam artian, aku tak pernah benar-benar melakukan perjalanan bersama diri sejatiku. Saat aku melihat kaca, yang kulihat hanya sebatas fisik, tapi tak pernah menengok ke dalam diriku, ke dalam jiwaku sendiri.
Sekarang, aku tak mau lagi mengatakan diriku sebagai ini dan itu, aku memiliki sifat ini dan itu, TIDAK. Kadang kita hanya mencitrakan diri kita pada orang lain sebagai sosok yang ingin dilihat orang lain, tapi yang sebenarnya, diri sejati kita berteriak dari dalam meminta pengakuan. Apa yang lebih baik dalam hidup ini, selain menjadi diri sendiri? selain berjalan dalam kehidupan dengan menggandeng diri sejati? itulah yang terbaik dari hidup. Mengenal diri sendiri, bertambah dewasa dari hari ke hari, menemukan hakekat hidup dan memperkaya jiwa kita dalam setiap penemuan dari langkah-langkah dalam kehidupan.
Pastinya, mengakui siapa diri sendiri adalah hal berat, kita harus melintasi masa lalu, merasakan kembali rasa sakit dan yang terpenting menerima diri kita apa adanya, yang baik dan yang buruk bukan diri kita yang diharapkan oleh orang lain. That's must be not easy......
Kalimat ini menyentil dasar hatiku, aku mulai bertanya pada diriku sendiri, 'apakah aku sudah melakukan perjalanan ke dalam diriku?' Jawabannya sudah pasti tidak.
Aku melihat banyak orang di sekelilingku, yang sibuk mencari perhatian, sibuk mencari 'wah' dari orang lain, sibuk mencari pengakuan, mengatakan diri mereka ini dan itu. Dan aku melihat ke dalam diriku sendiri, yang sibuk dengan segala tetek-bengek di luar diriku, mulai dari pekerjaan, memikirkan masalah dengan orang lain, nonton TV dan banyak hal lagi.
Begitu sibuknya bergelut dengan kehidupan sehari-hari, membuat kebanyakan dari kita lupa menyapa diri sendiri. Dan ironisnya, hidup tanpa mengenal diri sejati laksana sumur tanpa air.
Dan sekarang aku menemukan jawaban, kenapa kegelisahan selalu memenuhi hatiku. Karena selama ini aku hanya hidup di atas permukaan, dalam artian, aku tak pernah benar-benar melakukan perjalanan bersama diri sejatiku. Saat aku melihat kaca, yang kulihat hanya sebatas fisik, tapi tak pernah menengok ke dalam diriku, ke dalam jiwaku sendiri.
Sekarang, aku tak mau lagi mengatakan diriku sebagai ini dan itu, aku memiliki sifat ini dan itu, TIDAK. Kadang kita hanya mencitrakan diri kita pada orang lain sebagai sosok yang ingin dilihat orang lain, tapi yang sebenarnya, diri sejati kita berteriak dari dalam meminta pengakuan. Apa yang lebih baik dalam hidup ini, selain menjadi diri sendiri? selain berjalan dalam kehidupan dengan menggandeng diri sejati? itulah yang terbaik dari hidup. Mengenal diri sendiri, bertambah dewasa dari hari ke hari, menemukan hakekat hidup dan memperkaya jiwa kita dalam setiap penemuan dari langkah-langkah dalam kehidupan.
Pastinya, mengakui siapa diri sendiri adalah hal berat, kita harus melintasi masa lalu, merasakan kembali rasa sakit dan yang terpenting menerima diri kita apa adanya, yang baik dan yang buruk bukan diri kita yang diharapkan oleh orang lain. That's must be not easy......
