Tombok Batas Kemandirian
Beberapa hari lalu aku membaca sebuah novel, tokoh dalam novel ini mengatakan dalam salah satu kalimatnya 'tembok batas antara kemandirian dan keseperian sebenaranya sangat tipis.' Aku melihat ke dalam diriku sendiri akhir-akhir ini dan menemukan kebenaran dalam apa yang diungkapkan tokoh dalam novel tersebut.
Sejak lulus SD, aku selalu berusaha untuk mandiri, selama aku bisa aku ingin melakukan apapun sendiri. Aku selalu menganggap kemandirian itu menyenangkan. Karena aku takut jika harus tergantung pada orang lain, pada akhirnya harus kecewa. Entah bagaimana, aku menganggap berhasil melakukan segala sesuatu sendiri memberikan kepuasan tersendiri. Sampai detik ini,aku masih menyukai kemandiriankau, ketenangan duniaku.
Tapi ada yang berbeda sejak beberapa lama. Dunia yang kumiliki sekarang tak lagi sama. Ketenangan ini jadi terasa sangat tenang, lengang, sepi dan sunyi. Nocturne, begitu aku selalu menyebutnya. Tak ada yang kutakutkan. 'Rumah'yang kuhuni masih saja rumah yang sama seperti bertahun-tahun lalu. Sama sepinya,sama lengangnnya. Hanya ada beberapa perubahan orientasi dalam hidupku. Itu saja masalahnya. Aku masih belum yakin apa yang sesungguhnya kuinginkan kali ini.
Well, aku ingat betul apa yang kutemukan beberapa tahun lalu,saat aku mengalami kesepian yang hampir sama.Dan aku bertahan karena aku berpikir, kita terlahir sendiri dan pada dasarnya kita memang selalu sendiri. Teman dan orang-orang di sekeliling kita akan selalu datang dan pergi. Tapi pada akhirnya kita tetap seorang diri. Aku hanya harus menghadapi dan mencari jalan agar dunia yang kuhuni, yang kumiliki saat ini jadi tempat tinggal yang menyenangkan untuk kutempati sepanjang hidupku. Tak peduli bagaimanapun keadaanya, tak peduli perubahan apapun yang terjadi di dalamnya.
Pasangan Yang Kuinginkan
Kritik memang tak selalu menyenangkan. Itu yang kualami saat seorang sahabat terbaikku mengkritik pilihanku soal pria atau apa yang idealku soal pernikahan. Reaksi pertamaku kesal dan aku mulai memikirkan kebenaran pendapatnya. Dan lalu aku mulai bingung memikirkan pendapatnya dan pemikiranku sendiri. Pada akhirnya aku berpikir sangat keras, tentang pernikahan dan pasangan hidup.
Suatu hari, T bertanya padaku 'Tidak cukupkah buatmu seorang pria yang baik, membuatmu nyaman, mapan dalam pekerjaan?' Dan pilihan-piliahnku yang salah dijadikannya senjata untuk mengkritik mandeg-nya kehidupan asmaraku.Aku memikirkan segalanya kembali. Apa yang paling kuinginkan dalam hidupku adalah berbagi bersama seseorang yang tepat, katakan Mr. Right. Tidak pernah berubah dari waktu ke waktu. Well, memang ada saat-saat di masa lalu aku berencana jatuh cinta pada seseorang yang sudah kukenal. Pada akhirnya semua juga tidak berjalan dengan mulus.
Kalau menyangkut pernikahan, banyak hal yang kulihat dari sekelilingku. Begitu banyak orang menikah dan tidak merasakan kebahagiaan. Aku selalu bertanya pada diriku sendiri, apa gunanya memutuskan bersama seseorang yang kita tahu tidak akan membuat kita merasa bahagia? Tidak membuat kita merasa seperti pulang ke rumah?
Dalam perjalanan aku berpikir soal apa yang kuanggap benar, soal status single ku yang panjang ini. Aku menemukan bahwa kehidupan pernikahan itu sudah membosankan. Lalu bagaimana kalau aku memutuskan menikah dengan orang yang hanya membuatku merasa biasa, merasa nyaman, merasa terpenuhi kebutuhan akan kestabilan, kebutuhan status dalam masyarakat, atau bahkan kebutuhan akan keturunan. Dan apa semua itu cukup bagiku?
Sungguh, aku tidak bisa memikirkannya. Apa yang kuinginkan adalah satu pria dalam hidupku. Yang akan membuatku bertahan menghadapi kebosanan hidup, karena saat kami begitu terbiasa dalam kehidupan berumah tangga, saat aku mengenang kembali ke belakang, mengingat alasan kenapa aku memutuskan bersamanya, aku dapat kembali merasakan getaran-getaran yang hidup itu. Mungkin. Aku sendiri tak terlalu yakin, ya? Yah, hidup selalu berubah, who know what will happent next? Tapi pikiran itu tak pernah tergoyahkan dari waktu ke waktu. But better i say, NEVER SAY NEVER
Well, katakan, pria-pria sejati memang langka di zamana modern ini. Ke mana mata memandang, yang ada hanya anak-anak lelaki yang tubuh jadi besar. Dengan ego mereka yang luar biasa membengkak. So, aku tidak mencari pria yang sepenuhnya sejati, aku hanya butuh seorang pria, yang bisa membuatku merasa hidup. Bisa diajak berbagi, bisa diajak berantem, bisa diajak bersenang-senang, melakukan hal-hal gila, pria yang cukup terbuka, yang nyaman dengan emosinya sendiri. Well, aku bisa menerima anak lelaki yang tumbuh dewasa dengan ego membengkak, karena memang itu lah mereka. Tapi satu yang kuharapkan dari pria, buat aku tertawa, buat aku menangis, buat aku marah, dan memiliki seluruh emosi yang lengkap sepanjang hidupku.
T bilang, aku terlalu keras, keras kepala, tidak berpikir logis. Well, aku bilang 'Yah! sudah seharusnya seperti itu diriku.' Aku tahu, aku bisa saja salah. Mungkin saja kenyamanan akan lebih indah dari pada emosi kompleks dalam sebuah hubungan. Tapi aku tidak bisa membayangkan menjalani kehidupan yang membosankan dengan orang yang membosankan. Dan aku tak mau coba-coba dalam hal ini. Kalau taruhannya perasaan, lebih baik tidak. Semua orang punya pilihan bukan?
Aku tahu apa resiko dari pilihanku ini. Mungkin suatu saat nanti, saat aku jadi tua dan seorang diri, aku akan menyesali ini. Tapi apa yang kuyakini saat ini akan kugenggam dengan erat di kedua tanganku. Toh banyak hal yang akan bisa kulakukan dalam hidupku ini. That's all!
Merengkuh Kebahagiaan
Ada saat-saat dalam hidupku, hari-hari terasa begitu mendung. Seperti aku terperangkap di dalam kabut, merasa sesak nafas, mengharapakn cahaya. Tapi selalu, dan selalu aku bisa keluar darai sana. Melihat secercah matahari dalam kehidupanku sendiri. Banyak hal yang perlahan mulai kumengerti, bahwa hidup kita terlalu singkat. Kebahagiaan terkadang hanya mempir dalam sekejab. Aku mengerti, sebelum tangis datang, saat aku bisa tertawa dan tersenyum, aku akan merengkuh semuanya, sepuas-puasnya. Meraih segala kebahagiaan yang dapat kuraih hari ini. Karena aku tahu pasti, esok hari mungkin tidak akan pernah sama lagi. Segalanya, segala-galanya dalam hidup ini, aku ingin menikmati semaksimal mungkin. Saat suka, saat duka, semua yang datang silih berganti. Aku ingin bahagia, dan aku meraihnya dalam setiap detak jantungku, aku berusaha meraihnya. Ada banyak hal, yang pasti, yang aku tahu, bahagia dapat datang dari mana saja. Suatu kali, saat aku merenung sendiri, aku menemukan, 'betapa indahnya menjadi seorang yang bebas, mandiri, dan aku menyukai kemerdekaanku. Aku menyukai bahwa aku tak tergantung pada apa pun, kecuali Tuhan. Itu satu di antara keindahan hidup yang dapat kurengkuh.
Kebahagiaan di Ujung Jari Kita
Musik klasik kembali jadi dunia ku beberapa hari ini. Rasanya memang sudah sepanjang hidupku aku menyukai musik-musik klasik ini. Beberapa karya Beethoven, Bach, Pachelbel dan yang lain-lainnya. Ada sesuatu yang membuat ku merasa....sulit dijelaskan, setiap kali mendengarkan musik klasik.
Setelah membaca buku Water karya Masaru Emoto, aku mulai memahami. Bagaimana air yang dipaparkan musik klasik Moonlight Sonata milik Beethoven membentuk kristal-kristal indah. Mungkin itu lah kenapa, katanya yang tubuh kita 70% berisi air, merasakan keindahan sampai ke sukma kita. Wow...that's great, isn't it?Tapi bukan musik klasik yang ingin kuungkapkan kali ini. Tapi kedamaian hatiku, damai sekali rasanya akhir-akhir ini. Setiap kali aku kembali ke sarangku (kos-ku), menikmati kesendirian, membaca buku, mendengarkan musik kesayanganku. Aku merasa menemukan duniaku yang sempat hilang. Aku menyadari, betapa aku mencintai ketenangan, merasakan setiap getaran kehidupan mengalir di setiap detakan jantungku. Kedengarannya begitu puitis. Sungguh, aku merasakan getaran indah setiap kali memejamkan mata dan mendengarkan suara derai hujan. Atau saat pulang di sore hari, berjalan dan menatap warna jinga senja dan birunya langit. 'Ya Allah...' itu saja yang terus terucap.
Apa yang ingin kukatakan, kita bisa menemukan kebahagiaan dan kedamaian di tempat yang paling, sangat, sangat dekat dengan diri kita. I can do that...and i said it's a real happiness. Kita hanya perlu sedikit berpaling dari segala permasalahan dalam kehidupan, menemui jiwa dalam diri kita dengan menatapa alam semesta, menikmatinya, bersatu dan menjadi bagian dari itu semua.
Dan...aku sungguh-sungguh mengerti apa arti kebahagiaan sejati, setiap kali aku menemukan saat-saat damai menikmati hal-hal kecil yang ditawarkan oleh kehidupan, seperti menatap matahari tenggelam, satu di antara begitu banyak lainnya. pada akhirnya, aku mengerti, tak ada yang perlu ditakutkan, karena kita hanya punya 1% kendali atas hidup kita, 99% sisanya adalah milik Allah.
Dunia Yang Berbeda
Kehidupaku seperti berayun-ayun selama beberapa waktu. Aku melakukan sesuatu yang membebaskanku dan sedikit tak masuk akal. Aku memikirkannya selama beberapa waktu, tapi hatiku terasa tenang. Aku tak menyesalinya. Jadi ini keputusan yang benar.Seperti menabrak tembok, itu yang kurasakan. Tanpa reaksi, tanpa ada perubahan. Aku juga mulai sedikit goyah, keyakinan yang dulu membuatku kuat mulai tak lagi dapat kupegang. Aku juga tak tahu apa yang benar-benar kurasakan. Aku menyembunyikannya di balik senyuman, bahkan aku selalu berkata pada diriku sendiri kalau aku baik-baik saja. Tapi apa aku benar baik-baik saja? Rasanya sangat sedih, dan sungguh berbeda, seperti ada sebagian diriku yang hilang. Sejak hari itu, dunia terlihat dalam bayangan warna-warna suram. Begitulah hari-hariku. Selama awal tahun baru, aku berkumpul bersama sahabat-sahabat terbaikku, apa yang mereka katakan sungguh melegakan, apa yang mereka lakukan sungguh sebuah penghiburan. Hari-hari kelam ini sungguh terasa panjang, aku bisa menceritakan semua pada sahabatku, semua, termasuk apa yang kurasakan. Dan mereka mengatakan 'aku mengerti.' Tapi tetap saja, hanya aku yang tahu bagaimana rasanya. Aku bertanya pada Tuhan dalam setiap doaku, dan aku semakin tak mengerti, karena masalah ini jadi semakin kompleks. Kami semakin jauh, tapi hatiku semakin lekat. Ada sesuatu yang tak dapat kuungkapkan. Aku terus bertanya, kenapa? Apa yang terjadi? Di mana letak salahnya? Dan kenapa tatapan itu selalu menggangguku? Aku harus mencari jawabannya, tapi jalannya terasa buntu. Kalau memang ini bukan untuk kami, kenapa perasaanku begitu kuat? Kenapa ada saat-saat yang tak dapat dijelaskan itu?Aku merasa sangat butuh duniaku, kembali ke sana, ke dalam ketenangan. Aku ingin menemukan jawabannya di sana, seperti biasanya di masa lalu. Tapi, duniaku yang baru sangat tak memungkinkanku untuk mendapatkan ketenangan. Begitu banyak orang bicara, suara-suara gaduh, musik dan segala hal yang membuatku sangat terganggu. Aku sendiri bahkan mulai terlalu gaduh.Aku merindukan segala yang pernah kumiliki, rindu T, rindu ketenangan yang damai yang selalu kita miliki. Percakapan yang membuatku melihat dunia dengan cara yang lebih indah. Aku sangat merindukan T. Teramat sangat. Merindukan pelukannya yang menenangkan, merindukan tegurannya, merindukan kritiknya, nasehatnya dan segala hal indah tentang dirinya.Tapi seperti yang selalu dikatakannya, aku harus berjalan sendiri tanpanya dalam kehidupanku kini. Dan aku harus menemukan jalanku, menemukan segala yang mulai pudar dalam diriku. HARUS
Masih Menanti Kismet
Semua orang mengatakan hal yang sama. Semua sahabat yang sangat menyayangiku. Tapi ini belum final bagiku. Kalau ini proses untuk membuatku melihat, aku akan menerimanya. Tapi selama ini doaku tak pernah putus. Sejak aku menyadari banyak hal dalam hidupku, aku tak lagi melangkah dengan cara yang sama. Aku sadar, tak ada sesuatu apapun yang dapat dipakasa dalam hidup ini. Apa yang terjadi pasti akan terjadi, apa yang tak bisa terjadi pasti tak akan terjadi.Aku tahu, bebanku ini terasa makin berat dari hari ke hari. Tapi aku akan melangkah dengan lebih ringan saat menyerahkan segalanya ke tangan Tuhan. Ada saat-saat aku merasa sangat takut menghadapi apa yang terjadi. Tapi saat kembali mengingat apa yang kuyakini, aku dapat memahami dan menerima segalanya dengan lebih mudah.Aku masih menunggu proses kismet ini. Entah kapan akan terlihat dengan jelas, tapi aku tahu sekarang masih dalam proses pembentukan. Dan aku akan setia menunggunya....Terjadilah apa yang akan terjadi.
Terasa Berat
Berat sekali harus menjalani setiap langkah dari kehidupanku ini. Bukanya aku ingin mengeluhkan tentang apa yang terjadi dalam kehidupanku. Sama sekali tidak. Tapi sering kali terasa tak tertahankan. Tahun ini akan segera berlalu. Rasanya tak pernah sesenang ini menyambut tahun baru. 2008 benar-benar buruk untukku. Aku tak tahu apa yang akan terjadi di tahun depan, tapi aku lega tahun buruk ini berlalu.Aku mulai melihat di mana aku sekarang berada. Dan takut sekali untuk membuka mata dan mengakuinya. Aku bersiap menghadapi segala yang akan menyambutku di depan sana. Sungguh, ini sangat berat. Memutuskan memegang teguh apapun yang kuinginkan, yang benar-benar kuinginkan dalam hidupku. Segala impianku dan segala hal yang selalu kurindukan dalam hidupku. Apa yang terbaik yang kumiliki saat ini adalah kedekatan dengan Tuhan. Aku tahu pasti di sanalah segala hal diletakan, kepasrahan. Kebaikan Tuhan tiada taranya. Aku memuja Nya, dan akan selalu melakukannya. Aku berdoa untuk terus diberi keyakinan ini, terus percaya pada segala kebaikan-Nya. Sungguh berat segala yang kualami, sungguh berat memegang teguh semua yang kuyakini. Berat untuk terus mengangkat kepala saat harus menetapkan pilihan yang kuyakini dan semua mulai menghakimi. Aku bertahan di jalan yang kuyakini, aku tak ingin berlari menghindar dari setiap masalah yang disodorkan di hadapanku. Termasuk yang satu ini, ujian lain dari hidupku.Aku bertanya pada Tuhan dalam setiap doa-ku, dan aku tak bisa mendengarkan jawaban Nya saat ini. Tapi aku tetap yakin, segala yang diberikan Nya padaku adalah yang terbaik untukku. Apa yang kutempuh ini mulai terasa tak tertahankan, aku mulai tertatih-tatih untuk bertahan. Tapi aku harus tetap bertahan dan melaluinya sampai akhir. Aku tak mau berlari dan terus dikejar oleh hal yang tak terselesaikan. Aku harus melalui ini sampai akhir.
Cinta Ini
Apakah perasaan ini nyata? Kenapa beberapa orang berkata aku bodoh karena mencintainya? It's so crazy. Aku tak bisa menggambarkan apa yang kurasakan. Sesuatu di hatiku, terasa begitu tak tertahankan, kadang ingin membuatku berlari menjauh,menjauh dan menghindarinya. Kadang membuatku ingin menemuinya dan memaki-makinya dan lalu menyerahkan hatiku sepenuhnya. Membuatku sangat sakit karena ingin memilikinya, kadang ingin melepaskannya dan meninggalkannya. Membuat semua ini berlalu dari kehidupanku. Perasaan ini kompleks.
Well, jatuh cinta selalu membuatku selalu merasa aneh. Berubah jadi obsesif? Melakukan hal-hal gila dan tak masuk akal. Love is a crazy thing for me. Apa yang kuyakini tentang cinta? Saat dulu aku remaja, aku mengkhayalkan cinta sebagai sesuatu yang sangat indah. Kesetiaan, satu untuk selamanya. Menemukan pangeran impian, jatuh cinta dengan cara yang indah seperti dalam kisah-kisah dongeng. Mungkin sampai hari ini, pandanganku tentang cinta tetap sama. Sesuatu yang indah. Sesuatu yang membuat hidup terasa lebih hidup.Walau pada kenyataannya, jatuh cinta selalu identik dengan rasa sakit dan patah hati, seperti setiap kisah yang yang kualami. Tapi aku tak pernah jera. Aku tak pernah berlari dan menghindari saat cinta itu datang. Walau sering kali aku merasa ketakutan, tapi aku selalu menikmati dan menyambutnya dengan hangat. Mebiarkannya mencerahkan kehidupanku.
Aku berharap memiliki kisah yang indah tentang cinta. Jatuh cinta, menikah dan bahagia selamanya. Tapi bagiku saat ini, aku memandang cinta dengan cara yang sangat berbeda. Aku baru menyadarinya saat aku jatuh cinta pada pria ku ini. Aku merasakan sakitnya, aku merasakan indahnya, aku merasakan segala perasaan kompleks itu. Tersiksa dan bahagia. Aku bersyukur dan menangisinya. Tetap, di antara semua rasa sakitnya, aku selalu berkata 'ini hal terindah dalam kehidupan.'
Aku benar-benar mengerti kalau mencintai tak harus selalu memiliki, sungguh, kedengarannya klise, tapi aku benar-benar tahu akan hal itu dan meyakininya. Setelah semua hal yang pernah kulalui dalam hidupku. Pria ini sama sekali tak peduli padaku, beberapa orang berkata aku bodoh karena terus saja mencintainya. Bagiku ini hanya bagian dari perjalananku. Ada hal yang lebih besar dari pada memuaskan keinginan untuk memiliki apa yang sangat kita inginkan. Aku hanya menjalani, dan akan melihat ke mana hidup ini akan membawaku.
Aku ingin mengambil apa saja yang ditawarkan oleh kehidupan, kebagiaan, kesedihan, penolakan, rasa kecewa, kepahitan, ketidakadilan. Semua hal yang kuterima dengan lengkap membuatku sadar bahwa aku hidup dan menjalaninya. Dan setiap kali kesedihan datang, aku tahu, suatu saat akan tiba semuanya berlalu. Tak ada yang abadi dalam kehidupan ini bukan? Soal cinta ini, ada sesuatu di hatiku, sesuatu yang kuyakini. Sesuatu yang tak bisa kuungkapkan,dan hanya bisa kuucapkan saat aku sedang berdoa. Hanya aku dan Tuhan yang benar-benar tahu. Suatu hari kelak, aku akan membuktikannya. Dan aku yakin itu.