radenkar

Tuesday, October 07, 2008

Mencari Pasangan Hidupku


Bulan ini banyak teman-temanku yang menikah, bertunangan dan menemukan pasangan. Sedih juga rasanya aku masih berada di dunia para jomblo. Tapi sejak terakhir kali aku menjalin hubungan, setahun yang lalu tepatnya. Banyak hal yang kupikirkan kalau menyangkut yang satu ini. Lebih berhati-hati? Sound like not me....yah, aku yakin kalau orang-orang yang kenal dekat dengan aku pasti tahu, soal hubungan, aku paling ceroboh!!

Tapi....kesedihan saat melihat orang lain menikah, punya pacar atau memiliki pasangan, tak juga membuatku ingin melompat dalam pelukan pria yang menyodorkan diri padaku. Tidak. Soal memilih pasangan aku punya prinsip sendiri.

Sahabat karib ku bilang, aku pemimpi, mengimpikan pria dalam dongeng. Untuk sesaat, kadang aku bertanya-tanya mungkin itu benar. Tapi setelah perenunganku yang panjang, aku menemukan jawaban yang beda.

Sudah lama aku berhenti mencari Prince Charming di dunia nyata. Aku tahu pasti, pangeran impian hanya ada dalam dongen anak-anak yang dulu kubaca. Sebagai wanita dewasa, dengan pengalaman luka, aku tahu, tak ada pangeran yang akan menjemputku dengan kuda putihnya, dan memanjakanku bagi putri impian.

Apa yang kuinginkan dalam hidupku, yang benar-benar kuinginkan dalam hidupku adalah teman berbagi hidup. Dia tak harus tampan, dia tak harus kaya, dia tak harus memiliki segalanya. Aku hanya menginginkan seorang pria biasa, yang melihatku sebagai sebuah pribadi, yang bersedia berbagi suka - duka bersamaku sebagai pasangan sejajar. Seorang teman sejati dalam berbagi hidup. Seorang yang akan kucintai karena pribadinya, karena sesuatu dalam dirinya, seorang yang akan kutatap dengan penuh penghormatan sepanjang hidupku. Temanku menjalani hari-hari sepi saat kelak di hari tua.

Begitu sulitnya bertahan dengan semua yang kuinginkan ini. Tapi dalam perenunganku yang panjang, aku menemukan kalau aku tak ingin hal lain, dalam hal pasangan. Aku ingin partner in live, teman berbagi, temanku menjalani hidup. Aku tak tahu, seperti apa dia kira-kira. Yang pasti aku tak akan melihat sisinya dari segi fisik. Owh, mungkin seseorang yang dapat mengerti apa yang kumaksdukan hanya dengan tatapan mata? Kedengaran lucu, seperti supranatural...tapi pernah sekali dua kali aku menemukan momen seperti ini dengan seseorang. Aku tertawa bersamanya, hanya dengan saling menatap mata. Someone that i will missing....someone that i love, or i ever loved? Tapi sampai saat ini statusnya masih jadi seseorang yang kucintai 


0 Comments:

Post a Comment

<< Home