radenkar

Sunday, September 28, 2008

Menunggu Saat Itu Tiba


Betapa sulitnya menjalani ini. Aku menyadarinya saat semalam aku memikirkannya. Apa yang kujalani adalah apa yang harus terjadi. Aku harus melaluinya, aku tak ingin mengingkarinya, dan jika saatnya tiba aku harus mengungkapkannya.
Itu semua bagian yang tak dapat kuhindari.



Aku tahu pasti, apa yang kulakukan mungkin tak dapat dipahami orang lain. Caraku menghadapi perasaanku ini. Bukan hal mudah untuk bertahan, bukan hal mudah untuk menggenggamnya erat-erat, meyakini apa yang kulakukan ini benar tanpa berlari menghindari.



Berkali kali dalam doaku, aku bertanya pada Tuhan, 'Apa yang harus kulakukan?' Dan aku mendapat jawaban yang sama dalam hatiku, 'aku harus menunggu untuk saatnya tiba.' Entah apa perasaan ini akan berlalu, atau saat aku harus menghadapi kenyataan aku harus terluka.



Aku pernah mengalami ini. Jatuh cinta dengan rasa sakit bukan hal asing buatku. Yang kutahu, aku harus tetap menggenggam apa yang kuyakini, aku harus berada di jalan yang ingin kutempuh tanpa berlari menghindari.



Sungguh, rasanya tak tertahankan. Ada saat-saat terasa begitu pedih. Aku ingat pesan T, tak boleh mengeluh, aku ingat bagaimana dia mengajariku menghadapi segala hal berat dalam kehidupan. Aku tahu bagaimana cara meletakan segalanya dan pasrah pada Tuhan. Dan aku akan melakukan hal yang sama untuk masalah ini.



Apalagi yang harus kukatakan? Apalagi yan harus kukeluhkan? Tak ada. Hanya memang saat-saat tertentu, saat perasaan ini begitu menekan seperti saat ini, aku butuh mengungkapkannya, aku butuh mengeluarkannya.



Seperti inilah rasanya, pedih, indah, seperti terbalut dalam kabut yang tak dapat disingkap. Hanya terlihat bias matahari yang samar-samar. Kalau cukup beruntung, aku kadang dapat melihat pelangi yang samar-samar. Sungguh, saat perasaan itu terasa menekan, rasanya ingin berlari sejauh-jauhnya dari semua ini. Tapi aku tahu pasti, saat aku berlari, perasaan ini terus mengejarku, menyiksaku dan menuntut untuk diakui.



Berdiam diri memang tak membawa perubahan apapun. Tapi aku percaya kata hatiku, 'tunggu saatnya.' Itu saja yang kupegang erat-erat, dan aku meyakini, jika saatnya tiba, saat kabutnya mulai menipis dan saat aku bisa melihat matahari dengan indahnya bersinar, aku yakin segalanya akan terlihat lebih jelas dalam pandanganku. Dan aku dapat memilih ke mana arah yang akan membawaku pada tujuan yang ingin kucapai dalam hidupku.


0 Comments:

Post a Comment

<< Home